Halaman

Sabtu, 22 Oktober 2011

KETIKA HATI BERBICARA I

memang hidup sendiri itu tidak mudah. jauh dari orang tua, jauh dari keluarga. tapi keadaan inilah yang membuat fikiran semakin dewasa. apalagi tinggal di tempat yang bukan sekadar menginap seperti kos2 biasa yang bebas segala sesuatunya. tinggal di pesantren memberikan dampak yang besar bagi perkembangan karakter menuju karakter yang islami. namun semua itu juga tergantung individu sendiri, apakah niat pertama untuk tinggal di pesantren itu? jika memang berniat tinggal pesantren itu semata2 mencari ridho Illahi, insya Allah dimudahkan di segala urusan yang membelit jiwa.


memang tidaklah mudah menjadi banyak karakter dalam satu waktu, menjadi mahasiswa saja sudah banyak pemuda pemudi yang mengeluh karena tersiksa tugas, ditambah predikat santri yang melekat pada diri yang mau tidak mau "MENGAJI" adalah suatu keharusan ketika sepulang dari kuliah. belum lagi ada tugas untuk menjadi tenaga pengajar bagi sekolah dasar yang berjarak 37 km dari pesantren yang terletak di pegunungan bantul, semakin menuntut aku untuk pintar2 membagi waktu. adakalanya juga aku diminta menjadi panitia dalam berbagai aktifitas pesantren yang seakan harus memutar otak untuk mensiasati waktu yang tersisa. memang seluruh aktivitas membuat tubuh lelah, namun aku percaya apa yang kita tanam hari ini pasti akan aku petik buahnya di hari esok.

"universitas", sebuah dambaan sejak kecil ketika menyandang gelar mahasiswa. sejatinya aku lebih tertarik dan tertantang menjadi seorang tentara, namun apa daya orang tua tidak meridhoi, karena ridhonya Allah adalah ridhonya orang tua, maka aku mengikuti apa yang orang tua kehendaki.

aku memilih uny sebagai pilihan kampusku, lalu pend. bahasa inggris sebagai pilihan jurusanku, semua adalah pilihan orang tua dan aku mengikuti apa kata mereka. memang pendidikan mereka tidak setinggi apa yang aku rasakan saat ini, namun orang tua lebih mengerti dalam membaca bahasa situasi, karena mereka telah mengecap pahit getirnya kehidupan yang belum bisa sanggup bagiku untuk menafsirnya. maka tidak malukah kita apabila masih saja membantah kata2nya?

pertama kali menginjakkan kaki di sebuah universitas, tersirat suatu aura kebebasan yang tidak ada pada sekolah. semua elemennya nampak terlihat sudah dewasa meski jika lebih diteliti lagi kata2 ku terbantahkan, karena dewasa bukan karena umur yang tua namun dewasa adalah mampu menghadapi segala sesuatu dan menyelesaikan setiap persoalan kehidupan yang dijejali Illahi.

kampus memang tempat yang baik bagi tumbuhnya pemikiran2 menjadi semakin luas dan terbuka bagi pendidikan, namun jika tidak ditopang dengan agama maka membuat pemikiran menjadi pincang. ketika kepintaran otak tidak dibarengi kepintaran hati. maka hancurlah pemikiran yang ia cetuskan, namun jika kepintaran otak sejalan dengan kepiawaian hati, maka selaraslah hidup manusia, karena tujuan hidup bukan hanya untuk hidup di dunia, namun tujuannya untuk hidup di akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar